Musik

Koto, Alat Musik Petik Tradisional dari Jepang yang Mirip Kecapi

Keberadaan kesenian Jepang menarik perhatian masyarakat dunia. Lebih dari itu, bahkan sanggup melahirkan ketertarikan sekelompok orang. Warga Jepang melestarikan kebudayaan leluhurnya sehingga sejumlah instrumen musik tradisional masih ditemui sampai kini. Salah satunya koto, alat musik yang sampai kini tetap diciptakan pengiring acara festival, ritual sakral, atau momen tertentu.

Bagi orang Indonesia, koto tidaklah kelihatan asing sebab serupa seperti kecapi. Sekiranya untuk orang Tiongkok, koto mirip seperti zheng. Ukurannya sekitar 160 – 200 cm dan bahan pembuatnya yaitu kayu. Di bagian atas permukaan tertata senar sebanyak 13 dawai. Orang yang memetiknya memakai tsume pada jari kanan. Meskipun jari kiri diterapkan untuk mengatur nada seperti pada gitar.

Alat Musik Koto di Masa Lalu

Keberadaan koto tidak bisa dilepaskan dari dampak Tiongkok dalam perkembangan musik Jepang. Sekitar abad ke-7 pada periode Heian, lahirlah musik diketahui gagaku. Musik ini banyak muncul di area istana sampai akibatnya populer ke masyarakat biasa.

Dahulu, Jepang tidak mempunyai instrumen musik petik. Namun, seiring bertambahnya ketertarikan masyarakat kepada musik, alat musik koto lahir pantas dengan selera orang Jepang. Mulanya koto cuma dimainkan oleh orang-orang istana. Mereka memainkan koto untuk ceremony tetamu kehormatan, ritual adat, atau acara spesial lainnya.

Lama kelamaan koto dipelajari masyarakat Jepang bahkan permainannya mengalami sejumlah kreasi. Di abad ke-17 koto spaceman kian tenar. Apalagi semenjak seorang maestro pemain koto bernama Yatsuhashi Kengyo menghasilkan karya-karya yang mengagumkan. Selain itu, ia bahkan menyusun standar yang kini diciptakan pakem bermain koto. Umpamanya, nada riang yo-onkai, nada datar hirajoshi, atau bahkan nada sendu in-ongkai.

Pemakaian Koto Masa Kini

Pada awal kemunculannya koto hadir sebagai alat musik tunggal. Namun seiring dengan perjalanannya, pertunjukkan koto diiringi dengan instrumen lain. Selain itu, kian kerap kali diciptakan musik pengiring tarian dan pertemuan khusus yang modern.

Selain Yatsuhashi Kengyo, ada pula maestro koto lainnya yaitu Ikuta Kengyo. Ia mendirikan sekolah koto dan melaksanakan penemuan yang cukup berdampak. Gayanya menekankan daya kerja instrumental penggabungan dengan shamisen.

Pada abad ke-18, muncul sekolah koto baru hasil gagasan dari Yamada Kengyo. Ia mengadaptasi gaya shamisen pada zaman Edo. Antara sekolah Ikuta dan Yamada mempunyai ciri khasnya masing-masing, tetapi keduanya melahirkan gaya baru koto di Jepang.

Memasuki abad ke-20, koto terbilang alat musik tradisional Jepang tersukses. Artinya, eksistensi koto masih diakui, kerap kali dimainkan di beraneka acara, dan ada generasi yang melanjutkan untuk mempelajarinya. Akulturasi dengan kultur barat menghasilkan gaya baru lainnya. Tokoh yang tenar pada zaman ini yaitu Miyagi Michio.

Meskipun tercampur dengan kultur barat, koto tidak kehilangan jati dirinya. Wagakki Band yaitu grup yang mempertemukan alat musik tradisional ini dengan drum, gitar, dan bass. Mereka yaitu model musisi yang memainkan koto dengan metode modern sehingga mewarnai genre-genre dunia musik internasional.